
Saat ini, Diakui Dwi, Kedatangan untuk menemui para nelayan Juana ini hanya sampling dan melakukan sosialisasi, karena termasuk di pelabuhan Indramayu dan pelabuhan lain yang ada di Indonesia. Fungsi radio yang digunakan oleh para nelayan ini sangat menganggu.
“Radio Hard Frekuensi (HF) tidak mengenal batas, frekuensinya bisa mencapai jarak yang jauh, misalnya dari aceh bisa terdengar di merauke, dan disini (Juana, red) salah satu pelabuhan yang besar, sehingga kita jadikan sebagai sampling,”Jelasnya.
Sementara Wakil Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera Juana Siswo Purnomo mengaku bahwa selama ini banyak frekuensi kapal nelayan yang masuk di jalur yang tidak seharusnya dimasuki oleh para nelayan, sehingga diharapkan adanya arahan dari Kementrian Kominfo untuk bisa memberikan petunjuk, agar para nelayan ini bisa masuk di jalur frekuensi yang seharusnya tidak boleh dan dianggap vital bagi kepentingan negara.”Kami juga berharap adanya sosialisasi lebih lanjut bagi para nahkoda kami, agar frekuensi yang digunakan oleh para nahkoda kami tidak masuk di frekuensi kepentingan jalur vital negara”Ujarnya.
Selama ini, para nelayan belum pernah menerima informasi atau sosialisasi soal frekuensi yang tidak boleh dimasuki, sehingga dengan adanya kegiatan ini nantinya bisa ditindak lanjuti kepada para nahkoda dan bisa menjadi nilai positif, serta keselamatan para nelayan.





