Karena itu, ia mendorong adanya edukasi masif dari pemerintah, tokoh agama, hingga lembaga pendidikan. Sosialisasi tentang pernikahan dini harus menyentuh sampai ke tingkat desa dan RT.
“Peran orang tua paling penting. Jangan sampai karena tekanan ekonomi atau gengsi, anak justru dikorbankan. Masa depan mereka harus kita lindungi,” tegas Endah.
Ia juga meminta Pemkab Pati bisa memperkuat program pencegahan. Misalnya dengan beasiswa bagi anak rawan putus sekolah dan pelatihan keterampilan bagi keluarga kurang mampu.
“Kalau faktor ekonominya selesai, tekanan untuk menikahkan anak bisa berkurang. Kalau budayanya kita luruskan dengan pendekatan, masyarakat lama-lama akan paham,” ujarnya.
Politisi Partai Golkar itu mengajak semua elemen masyarakat ikut mengawasi. Ia berharap tidak ada lagi anak Pati yang harus kehilangan masa sekolahnya karena dipaksa menikah.
“Anak adalah masa depan daerah ini. Mari kita jaga bersama agar mereka bisa tumbuh, belajar, dan berprestasi sebelum akhirnya siap membangun rumah tangga,” pungkasnya.





