Menurut Suharmanto, wayang golek di Desa Kudur selama ini hanya dipentaskan setahun sekali, dan selalu di jadwalkan bertepatan dengan tradisi sedekah bumi.
“Wayang golek merupakan ikon budaya Kabupaten Pati, khususnya di desa kudur. Tapi sampai hari ini perhatian terhadap pelestarian budaya masih minim. Jadi harus dilestarikan,” ujarnya.
Ia menambahkan pelestarian budaya tidak hanya soal pementasan. Pemeliharaan aset kesenian seperti wayang, gamelan, hingga perlengkapan pendukung juga penting.
Suharmanto menegaskan DPRD akan mendorong Pemkab Pati lebih aktif mendukung pelestarian. Dukungan bisa lewat kebijakan maupun bantuan pendanaan supaya masyarakat tetap semangat menjaga warisan leluhur.
“Pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan ke masyarakat. Pemerintah harus hadir. Jangan sampai anak-anak kita hanya kenal budaya modern, sementara kesenian asli daerah hilang karena kurang perhatian,” tegasnya





