Hadir Di Dialog Publik, Wabup Kasman Soroti Kepunahan Bahasa Daerah

“Kita memang harus memperkuat bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, tetapi jangan sampai melupakan bahasa ibu atau bahasa yang kita gunakan sehari-hari di rumah. Bahasa daerah juga merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa yang harus kita jaga,” ujar Kasman.

Kasman juga menilai pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya mengandalkan kurikulum lokal di sekolah, karena peran keluarga justru menjadi faktor yang paling menentukan.

“Kurikulum lokal itu perlu, tetapi bukan segala-galanya. Bahasa kita bukan mati karena tidak diajarkan di sekolah atau dihapus dari kurikulum. Bahasa kita mulai mati dari rumah. Ketika orang tua sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah, anak-anak juga akan kehilangan kemampuan berbahasa daerah,” tegasnya.

Ia pun mengajak masyarakat, khususnya para orang tua, untuk membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kasman berharap pendidikan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan tradisi dan budaya lokal sekaligus memperkuat kebudayaan nasional.

Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya dimaknai sebagai persatuan melalui bahasa Indonesia, tetapi juga sebagai penghargaan terhadap keberagaman bahasa dan budaya daerah, yang menjadi ruang pertukaran gagasan antara pemerintah daerah, akademisi, komunitas pendidikan, dan mahasiswa untuk membahas masa depan pendidikan di tengah perkembangan zaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *