Untuk memaksimalkan kampanye, mereka membuat spanduk-spanduk Alat Peraga Kampanye (APK) dari karung bekas. Karung tersebut dibubuhi berbagai slogan maupun kata sindiran terhadap pemerintah atas kelangkaan pupuk dan mahalnya harga pupuk, menggunakan kuas dan cat.
Pembuatan spanduk tersebut dilakukan oleh puluhan orang lintas relawan. Mereka kompak mengecat karung satu per satu.
“Medianya pakai karung bekas, kuas dan cat. Isinya soal slogan-slogan dan harapan para petani,” kata Yulianto.
Ia mengaku langkah itu merupakan inisiatif bersama untuk memaksimalkan sosialisasi. Yulianto tak memungkiri pihaknya memang mengalami keterbatasan soal APK.
Meski demikian, kondisi tersebut tak menyurutkan langkah relawan untuk terus bergerak mengampanyekan Amal Alghozali untuk melenggang ke Senayan pada pemilu legislatif 2024.
Tak hanya itu, Yulianto mengakui, langkah relawan membuat spanduk dari karung memperlihatkan militansi untuk mendukung caleg Amal Alghozali.
Sejauh ini, sudah ada sekitar 1.500 karung yang disiapkan untuk pembuatan spanduk. Spanduk buatan itu akan dipasang di jalan-jalan dan di wilayah relawan se Kabupaten Grobogan, Pati, Rembang, dan Blora.
“Pemasangan dijamin tidak akan merusak lingkungan. Karena kami akan memasang baliho dari karung tersebut dengan tiang bambu, sehingga tidak merusak pohon. Pemasangan akan dilakukan di berbagai lokasi strategis, di pinggir sawah dan pinggir jalan yang tidak mengganggu lalu lintas,” ujar Yulianto.

Sementara itu Amal Alghozali dihubungi terpisah mengaku sangat terharu. Inisiatif dan ide unik tersebut datang secara suka rela dari para petani dan para pemuda desa yang mengharapkan ada wakil rakyat yang peduli kepada nasib petani.
”Saya mengapresiasi inisiatif para pemuda dan petani yang telah meluangkan tenaga dan pikiran untuk mendukung saya menuju ke Senayan. Insya Allah, perjuangan para petani tidak selesai dalam pemilu, tetapi harus diperjuangkan nasib mereka melalui kebijakan di meja parlemen,” ujar Amal Alghozali.
(Al/Red)





