“Saat keluar, massa aksi ternyata sudah meletakan mobil yang dilengkapi sound sistem, untuk mengusir para tamu yang diundang, seakan tidak boleh pertunjukan hiburan pada malam hari,”aku Frans.
Bupati kemudian menghampiri massa aksi, untuk menegur dengan sopan santun.
“Saya datang dan menegur mereka baik-baik. ade-ade sebaiknya pulang, karena hari sudah mulai malam, dan ini bukan tempatnya menyampaikan aspirasi, ” jelasnya.
Setelah menegur massa untuk membubarkan diri, kata Bupati massa aksi menantang, dan terus menyampaikan aspirasi
“Massa menantang dan mengungkapkan bahwa kondisi keuangan daerah seperti ini, kenapa harus buang-buang uang, untuk mendatangkan artis, saya bilang ke mereka, ini kan hiburan, dalam kaitan dengan HUT kabupaten,” jelasnya.
“Namuan massa terus menggelar aksi, sementara saya harus melindungi tamu kami”. Tutur Frans.
Dikatakannya, tindakan yang diambil dirinya bukan sebenarnya selaku Bupati, sebab aksi dilakukan itu berada di kompleks perumahannya
“Pada saat berorasi, itu berada di kompleks saya. Bahkan tidak ada aparat keamanan yang berada di lokasi, tidak diduga massa aksi akan berorasi,” ujarnya.
Bahkan Frans juga berupaya membujuk massa sebanyak empat kali untuk membubarkan diri, namun para massa aksi tidak mengindahkan.
“Empat kali saya suruh bubar, namun mereka tidak mau, kebetulan di mobil saya ada parang salawaku, rencana untuk buat tarian cakalela di acara HUT, beruntung ada parang dan saya mengusir, kalau dengan tangan kosong, tidak mungkin mereka kabur, ” bebernya.
“Terpaksa mau tidak mauh saya kejar dengan parang, beruntung mereka lari. Kalau tidak lari dan menantang saya, mungkin apa yang terjadi,”ucapnya
Frans Manery merasa kecewa dengan tindakan massa aksi, yang mengatasnamakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tobelo.
“Saya merasa kecewa atas tindakan mereka, saya sudah tegur mereka dengan baik-baik, tetapi mereka tidak mau ya, selaku pimpinan di Daerah ini terpaksa saya bubarkan, ” kesal Frans.





