Menurut Eko, kegiatan wisata seharusnya cukup dilakukan di dalam daerah agar tidak membebani orang tua.
“Kalau di daerah kan tidak banyak biaya, dan lebih bermanfaat untuk menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Eko yang juga alumni SMP Negeri 1 Tayu mengaku prihatin dengan kondisi sekolahnya yang kerap viral karena masalah.
Beberapa kali SMP Negeri 1 Tayu muncul ke publik terkait ijazah yang ditahan, pungutan, hingga rencana wisata mahal.
“Jadi saya minta Kepala Dinas Pendidikan bisa lebih memperhatikan secara khusus untuk SMP Negeri 1 Tayu,” pintanya.





