“Jika orang tua menemukan sikap negatif, bisa dikoordinasikan ke guru untuk pembinaan. Kalau guru tidak sanggup, baru ke kepolisian,” ujarnya.
Dari ratusan anak yang terpapar, paling banyak berasal dari tingkat SMP. “Secara emosional mereka punya rasa ingin tahu tinggi, sehingga hasrat untuk mencoba juga besar,” kata Reza.
Menurutnya, sosialisasi ini hanya langkah awal. Peran orang tua jauh lebih penting karena tumbuh kembang anak lebih banyak bersama keluarga dibanding di sekolah.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Pati Niken Tri Meiningrum menegaskan sosialisasi ini bertujuan untuk pencegahan dan kewaspadaan dini.”Kami bekerjasama dengan Densus 88 Polri dan Disdikbud Pati. Sasarannya seluruh sekolah se-Kabupaten Pati,” ujar Niken.
Meski di Pati belum ditemukan kasus anak terlibat radikalisme, Niken menyebut langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini dengan belajar dari kabupaten lain.
“Ini harus menjadi perhatian semua, baik orang tua maupun guru, agar pengawasan anak lebih ditingkatkan,” tuturnya.
Ia berharap sosialisasi tidak berhenti di kepala sekolah saja, tapi ditindaklanjuti sampai ke peserta didik di masing-masing sekolah.





