“Kalau standar nasional, tinggi badan itu 175 cm untuk siswa, sementara 165 siswi. Tetapi kami menyurat ke PPIP bahwa tinggi badan harus dikurangi, yakni siswa tingginya dari 175 dikurangi menjadi 165, siswi 165 dikurangi menjadi 160 cm,” jelasnya.
Dikatakan Jhon, Pendaftaran seleksi Paskibraka dilakukan secara online, namun diduga peserta seleksi diduga melakukan manipulasi data saat pemdataran.
Pihaknya menemukan, manipulasi data peserta seleksi pada keterangan dimana tinggi badan peserta diduga fimarc up, dan ini lolos pada saat pendaftaran lewat online.
Tak hanya disitu, meski lolos dalam pendaftaran, tim tetap melakukan verifikasi saat seleksi. Yang menjadi problem pada saat seleksi itu pada tinggi badan, meskipun peserta sudah lolos saat pendaftaran lewat online.
Panitia seleksi berkewajiban memverifikasi kembali tinggi badan, apakah memenuhi standar minimal atau tidak. Namun yang menjadi problem soal alat ukur tinggi badan yang menggunakan Kayu balok ukuran 5×5.
“Kami kira soal alat ukur yang dipermasalahkan itu bukan menjadi ukuran. Sudah disepakati bersama panitia dan tim. Bayangkan saja peserta 200 org lebih yang ikut seleksi. Alat ukur ini mempermudah dan cepat,” bebernya.
Dalam seleksi paskibraka, dirinya menyerahkan sepenuhnya tim, dan tidak ada interfensi dari langsung secara pribadi.
“semuanya kami serahkan ke tim seleksi, diwaktu pengkuran menggunakan balok itu kami mengundang Sekda, Asisten I,” ujar Jhon.
Jhon Anwar menegaskan, dalam seleksi paskibraka ada pihak puas hasil, ia mengundang datang dan ikut seleksi pada pekan depan.
“Kalau ada merasa tidak puas pada saat seleksi pengukuran tinggi badan, saya undang datang dan ikut seleksi kembali,” pungkasnya.





