Tidak Bisa Melaut, Para Nelayan Terancam Bangkrut

Kenaikan BBM itu, Lanjut Mukit, dianggap sangat signifikan, karena untuk kebutuhan kapal kecil dengan kapasitas 100 GT, membutuhkan BBM sebanyak 8 KL sampai 16 KL, atau 8000 sampai 16 ribu liter, atau Rp 200 juta lebih, sedangkan untuk kapal besar jenis fursin sekali berangkat dalam 1 musim membutuhkan 140 ribu liter, atau uang sebesar Rp 2 milyar lebih.

“Dengan adanya kenaikan ini, kita pastikan para nelayan hanya bisa bertahan sekitar 2 tahun, habis itu bangkrut, karena kenaikan ini tidak dibarengi dengan kenaikan harga ikan, dan itu disebabkan karena perekonomian yang lemah,”Ujarnya.

Dirinya berharap, Pemerintah bisa memikirkan lagi soal kenaikan harga BBM ini, karena itu dianggap sangat memberatkan para nelayan.

“Kita sekali berangkat harus mengeluarkan uang ratusan hingga milyaran rupiah hanya untuk BBM, belum anggaran yang lain, sementara harga ikan juga tidak stabil atau tidak bisa naik, itu artinya pemerintah tidak pro dengan masyarakat nelayan, dan kita pastikan 2 tahun lagi, para nelayan ini akan bangkrut karena tidak bisa mencari ikan.”Cetusnya.

(Ari:Ws/RedZ1)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *