Acara pelarungan sendiri, Kata Dia, Diikuti oleh ratusan nelayan yang ada di 4 Desa yakni, desa Keboromo, Sambiroto, Dororejo dan Tayu Wetan. Mereka masing-masing membawa perahu dan beriring-iringan menuju laut, untuk melarungkan sesaji laut, dan setelah itu pada sore harinya dilaksanakan doa bersama (tahlilan, red), yang dipusatkan di TPI Sambiroto.
“Yang dilarung itu seperti kepala kambing beserta 4 kaki dan ekor, ketan hitam dan ketan merah, ketupat/lepet, boneka yang dibuat dari tepung, kopi pahit/manis dan lain-lain. Itu dilarung dilaut disertai dengan bacaan shalawat bersama oleh para nelayan,”Katanya.
Acara sedekah laut kali ini tidak seperti tahun sebelumnya. Hal itu karena perekonomian yang sulit, dan dampak dari pendangkalan sungai dalam beberapa hari ini yang menyebabkan para nelayan tidak bisa melaut.
“Memang untuk hasil yang didapat oleh para nelayan saat ini kurang baik atau kurang memuaskan, dan pemangkasan anggaran dari Pemkab juga menjadi kendala, sehingga sedekah laut kali ini dibuat seadanya dulu,”Jelas Rochim.
(Lot-Ws/Z1)





