“Kami sudah tekankan dari awal, aksi ini damai, tidak ada pembakaran. Itu bukan konsep kami,” kata pria yang akrab disapa Kang Gun itu usai aksi.
Tapi Gunretno juga tak menutup mata pada kemarahan AMPB. Baginya, api yang membakar spanduk adalah simbol kekecewaan warga yang sudah bertahun-tahun menunggu kasus tambang ilegal tuntas.
“Kami paham rasa kecewa itu. Tapi JMPPK tetap pegang prinsip kerukunan. Sorotan kita bukan siapa yang bakar spanduk, tapi kenapa sampai ada yang bakar spanduk,” tegasnya.
Ia menyebut insiden itu sebagai alarm keras bagi aparat penegak hukum. Jangan sampai tumpukan persoalan tambang di Pegunungan Kendeng menumpuk lalu meledak jadi kemarahan jalanan.
“Ini bukan selesai di spanduk yang terbakar. Ini soal kasus tambang ilegal yang harus segera diselesaikan.” tutup Gunretno.





