Putra Wabup Halut, Komaruddin Nursi Kasman Jadi Pembicara Forum Internasional di Filipina, Angkat Sejarah Tobelo-Galela

Bagi Komar, penelitian ini memiliki nilai emosional sekaligus intelektual. Latar keluarganya yang memiliki keterikatan dengan Galela mendorongnya menggali sejarah leluhur melalui tradisi lisan dan pengetahuan lokal, lalu memadukannya dengan metode akademik yang dipelajarinya di UGM.

“Ini menjadi ruang bagi saya untuk memperkenalkan bahwa sejarah lokal Maluku Utara punya keterkaitan erat dengan dinamika Asia Tenggara,” ujarnya.

Sebagai Ketua Himpunan Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah BKMS FIB UGM 2026, Komar juga mengajak peserta melihat secara kritis narasi kolonial. Menurutnya, pemberitaan surat kabar Belanda kala itu dibingkai untuk memperkuat posisi politik pemerintah kolonial dalam memberantas perompakan dan perdagangan budak.

“Karena itu, sumber-sumber tersebut tidak bisa dibaca secara tunggal. Harus dikritisi agar kita mendapat gambaran sejarah yang lebih utuh,” jelasnya.

Kecintaan Komar pada sejarah lokal juga dituangkan dalam bentuk karya tulis. Pada 2026 ia menerbitkan buku “Perlawanan Rakyat Galela Tahun 1946–1949” sebagai upaya mendokumentasikan sejarah masyarakat Maluku Utara.

Di usia yang masih sangat muda, kiprah Komar menjadi bukti bahwa generasi Maluku Utara mampu masuk dalam percakapan akademik internasional. Ia tidak hanya membawa nama almamater, tetapi juga memperkenalkan sejarah dan budaya Tobelo-Galela kepada khalayak yang lebih luas.

Kehadirannya di forum Filipina sekaligus menegaskan bahwa sejarah daerah bukan hanya catatan masa lalu. Ia adalah identitas yang perlu dirawat, diteliti, dan diperkenalkan kepada dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *