Dengan nada mengingatkan, Mahli menekankan pentingnya pemahaman yang benar terhadap informasi yang disampaikan oleh narasumber sebelum menulis berita.
“Bedakan apa itu contoh, pendapat, informasi, maupun wacana. Jangan asal tulis sesuai keinginan sendiri, pahami dulu apa yang disampaikan oleh sumber,”bebernya.
Ia bahkan menilai bahwa berita yang ditulis oleh wartawan itu sangat berbeda dengan konteks pernyataannya dalam dialog publik mengenai polemik nelayan Morotai.
“Padahal, saya hanya mencontohkan bahwa jika sebuah perusahaan atau pelaku usaha berinvestasi di sebuah kawasan industri, sudah pasti akan membutuhkan pegawai dan tenaga kerja,”jelasnya.
Lebih lanjut, Mahli menghimbau kepada masyarakat Morotai untuk tidak mempercayai berita sebelumnya yang dimuat oleh salah satu media daring tersebut.
“Berita tentang pendaftaran karyawan di SKPT tidak benar. Hal ini saya sampaikan saat menjawab pertanyaan oknum wartawan bersangkutan dalam Dialog Publik yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Perikanan Universitas Pasifik (UNIPAS) Morotai,”imbuhnya.
Mahli menegaskan saat ini belum ada perusahaan baru yang beroperasi di SKPT, sehingga proses penerimaan karyawan belum dapat dilakukan





