Kemendikdasmen, kata Mu’ti, berupaya merespons masukan masyarakat agar seluruh sekolah mendapat penanganan layak. Dengan begitu, kondisi sarana prasarana pendidikan menjadi lebih baik dan menunjang proses belajar mengajar.
Salah satu penerima manfaat adalah SMPN 1 Gembong. Sekolah tersebut akhirnya mendapat perhatian setelah puluhan tahun bangunannya memprihatinkan.
Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, menuturkan atap, dinding, lantai, dan sejumlah ruangan sudah rusak parah sejak 1980-an.
“Dulu sekolah kami mengenaskan. Dengan adanya revitalisasi, pembelajaran lebih aman, nyaman, dan kondusif. Yang diperbaiki mulai dari lantai, dinding, dan atap. Semua atap kita bongkar karena kayunya sudah keropos sejak 1983 sampai sekarang,” ungkap Istiana kepada awak media.
Ia menambahkan, keenam ruang kelas untuk belajar siswa seluruhnya mengalami kerusakan. “Lantai pecah-pecah, saking banyaknya pohon besar, akarnya ngangkat dinding sampai retak,” imbuhnya.
SMPN 1 Gembong memperoleh anggaran Rp3,336 miliar untuk pembangunan ruang baru, dua toilet, laboratorium, ruang kepala sekolah, serta pengadaan perabot. Pengerjaan berlangsung Agustus hingga November 2025.





