“Dengan potensi desa yang ada, dengan penduduk yang banyak, kita selalu terbuka terkait kegiatan dan program apa saja di desa. Kita mengelola tata pemerintahan yang akuntabel, keterbukaan publik, baik infografis dan media sosial,” urainya.
Meski meraih prestasi, Suwardi mengakui masih banyak pekerjaan rumah, terutama infrastruktur. Jalan rusak dan jaringan listrik masih perlu pembenahan.
“Masih banyak PR. Desa yang luas, infrastruktur banyak. Kita memang ekstra butuh dukungan masyarakat dan pemerintah di atas terkait jaringan listrik, jalan-jalan juga ada yang masih rusak,” kata Suwardi.
Efisiensi anggaran juga menjadi tantangan. Dana Desa Ngagel tahun 2026 turun drastis menjadi Rp373 juta, dari sebelumnya Rp1,3 miliar lebih di 2025.
“Dana Desa tahun ini turun drastis, Rp373 juta. Kalau di tahun 2025, Rp1 miliar 300 jutaan. Kita memaksimalkan dan mengoptimalkan sumber daya yang ada,” paparnya.
Suwardi menegaskan akan terus berkolaborasi dengan Pemkab Pati untuk mengelola anggaran secara tepat sasaran.
Sebagai informasi, Peringkat 1 Desa Anti Korupsi Kabupaten Pati diraih Desa Wonosekar Kecamatan Gembong, Peringkat 2 Desa Ngagel Kecamatan Dukuhseti, dan Peringkat 3 Desa Baleadi Kecamatan Sukolilo.





