Saat ini harga di tingkat pengepul berkisar Rp1.700 hingga Rp1.800 per buah, sementara PT NICO membeli dengan harga Rp2.200 per buah.
Perbedaan itu, kata dia, dipengaruhi biaya operasional di lapangan seperti jasa transportasi viar, kenaikan BBM, biaya muat, serta adanya buah yang masuk kategori rijek.
“Ini yang menyebabkan ada selisih antara pembelian yang dilakukan petani pengepul dengan harga PT NICO termasuk Pancang,” tutur Delfis.
Sebagai petani, ia memahami bahwa harga buah kelapa sangat fluktuatif dan dipengaruhi pasar nasional maupun global. Meski berharap harga bisa naik lagi,
Delfis tetap bersyukur PT NICO masih konsisten membeli buah kelapa dari petani.”Memang kami berharap harga bisa dinaikkan lagi. Tapi kami tetap berterima kasih karena sampai saat ini PT NICO masih membeli buah kelapa. Kalau kembali ke pola kopra, prosesnya lebih lama, biaya operasional lebih tinggi, dan ada faktor penyusutan yang memengaruhi harga jual,” jelasnya.
Delfis berharap harga buah kelapa bisa kembali pulih seperti pada 2025 dan awal 2026, saat harga sempat mencapai Rp3.050 per buah.
“Walau demikian, saya mengucapkan terima kasih kepada PT NICO dan Pancang Duma. Dengan kehadirannya, pengangguran berkurang dan ekonomi masyarakat semakin membaik. Perputaran uang di desa juga semakin meningkat,” harap Delfis.





